Cerita Tentang Gunung Sepikul Yang Mungkin Belum Kamu Ketahui

3 min read

Sukapergi.com – Pernahkah kamu mendengar tempat wisata Gunung Sepikul? Belum atau pernah, yang jelas tempat itu adalah tempat yang bagus untuk melihat pemandangan alam.

Gunung sepikul menurutku termasuk tempat wisata yang tergolong privat, karena tidak begitu ramai dikunjungi orang tetapi sangat direkomendasikan untuk kamu yang suka dengan pemandangan alamnya.

Latar Penulis

Sebelum aku bercerita mengenai Tempat Wisata Gunung Sepikul yang mungkin belum kamu ketahui. Aku ingin menjelaskan jika aku adalah penduduk asli yang tinggal sangat dekat dengan Gunung sepikul, umur sudah kepala tiga, jadi bisa kamu bayangkan saja seberapa banyak cerita yang bisa aku ceritakan mengenai Gunung Sepikul.

Alasan Menulis

Alasan aku menulis ini mungkin karena ada beberapa portal media yang melakukan beberapa salah penulisan dan cerita, maka aku memberanikan diri untuk menulis cerita tentang Gunung Sepikul dari sudut pandangku sendiri.

Gunung Sepikul

Gunung ini memang tidak diragukan lagi untuk masalah pesonanya, sebelum menjadi viral pun Gunung ini menjadi salah satu tempat favoritku setiap harinya. Aku dulu setiap siang selalu mencari kayu bakar disana. jadi aku tahu persis semua sisi disana.

Lokasi Gunung Sepikul

Gunung Sepikul terletak di wilayah Desa Gunung Lor, Tiyaran, Bulu, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Sebelah Barat desa Baseng, Selatan Desa Soko, Timur Desa Brenggalan, Barat Laut Desa Gunung Lor dan Timur Laut Desa Pelem Putih.

Legenda Gunung Sepikul

Cerita dari kakek-nenek dahulu, Gunung Sepikul ada kaitannya dengan Bandung Bondowoso, kamu bisa membaca cerita legenda Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Singkat cerita Bandung Bondowoso diberikan syarat untuk membangun 1000 candi dalam semalam oleh Roro Jonggrang. Nah Gunung Sepikul ini adalah salah satu batu yang dipergunakan untuk membangun candi tersebut.

Baca Juga! :  Tips Traveling Bersama Anak

Dari beberapa sumber yang saya campur-campur dan saya sambungkan dengan logika saya dan belum tentu benar, berikut jabaranku.

Dua Batu besar (Gunung) di pikul oleh raksasa bisa Jin dan ternyata tali untuk memikul itu putus, dan kedua batu tersebut tidak jadi dibawa.

Maka dari itu Nama dari Gunung tersebut adalah Gunung Sepikul kalau ku terjemahkan adalah gunung yang di pikul atau siap di pikul.

Dan mengapa aku bercerita jika yang memikul tersebut adalah raksasa! Karena di daerah terdekat dulu pernah ada yang bercerita ada bekas telapak kaki besar sekali, bisa dibilang telapak kaki raksasa.

Ada sumber yang mengatakan tali pikulan lepas, ada juga yang mengatakan jika itu sengaja di taruh lagi karena ayam jago sudah berkokok, jadi batu tersebtu tidak jadi dibawa.

Ada juga yang bercerita dulu gunung tersebut masih ada talinya melingkar.

Harga Tiket Masuk Gunung Sepikul

Harga untuk tiket masuk menurutku random, tergantung dari hari libur atau antusias kedatangan orangnya, kalau rame sih palingan tiket masuk Rp2.000-Rp5.000. Tetapi jika hari biasa bisa dibilang harga tiketnya adalah gratis, karena kamu tidak di wajibkan untuk membayar, bayar seikhlasnya saja.

Pengalamanku Seputar Gunung Sepikul

Sudut pandangku ternyata banyak yang berbeda dengan para traveler atau sekedar penulis berita saja, aku memiliki banyak pengalaman yang akan aku ceritakan di artikel ini.

Sebelum Viral Gunung Sepikul

Sebelum viral akses paling mudah untuk mendaki gunung sepikul sisi utara adalah melalui jalur ke desa Pelem putih (Timur Laut). Tempat yang sekarang yang kalian anggap sebagai tempat tiket masuk, itu dulunya tidak ada. Dulu adanya hanya jalan setapak untuk para penggembala kambing, pencari rumput dan pencari kayu bakar.

Baca Juga! :  Bermain, Belajar, Kuliner bersama anak di Taman Pakujoyo Sukoharjo

Watu Giring

Nah di jalur setapak nanti kamu bisa menuju ke yang sekarang disebut Watu Giring. Dulunya watu giring jarang di kunjungi orang, paling sering menurut saya pribadi malah saya. karena disana ada pohon bambu kering banyak sekali disana.

Hawa di Watu Giring sangatlah horror, bulu kudu saya naik ketika memasuki wilayah disana, tapi saya sering main ayunan dengan akar pohon beringin yang menjalar ke bawahnya.

Waktu Terbaik Untuk Berkunjung Gunung Sepikul

Waktu terbaik untuk menikmati pemandangan di Gunung Sepikul ada 3 waktu menurutku, terlepas dari aturan yang sekarang di sebarkan:

  • Pagi sebelum matahari terbit : jadi sekitar kurang lebih setelah Subuh kamu sudah mulai naik.
  • Sore Sebelum Matahari Tenggelam : Sore sekitar pukul 5 sore adalah waktu yang pas untuk menikmati matahari tenggelam
  • Malam hari : Pemandangan di malam hari tidak kalah menarik dengan waktu lainnya, kamu bisa melihat kerlap kerlip lampu setiap desa.

Banyak Kera

Gunung Sepikul dulunya merupakan tempat tinggal kera, banyak sekali kera disana, sampai jika di waktu paceklik kera pada turun gunung untuk mencuri ke lahan-lahan pedesaan, seperti mencuri singkong, kacang tanah dsb

Tidak takut dengan wanita, kera disana sangatlah liar, bahkan jika yang membentak atau yang melawan wanita, maka kera tidak akan takut. Aku masih ingat kepada seorang pedagang jamu jika melewati gunung sepikul selalu diganggu oleh kera.

Pernah Tinggal Suku Baduy

Sebelum viral Gunung Sepikul pernah di datangkan suku badui untuk mengatasi banyaknya jumlah kera di sekitar pegunungan tersebut. Suku tersebut ditugaskan untuk mengurangi populasi kera disana. mereka tinggal sekitar beberapa hari disana, aku masih teringat itu masih jaman di bawah gunung sepikul masih kebun Tebu.

Baca Juga! :  Transportasi dari Stasiun Blitar ke Kampung Coklat

Tempat Video Klip Lagu

Watu Giring pernah menjadi tempat pembuatan video klip untuk lagu berjudul Silent. Band asal dari Wonogiri yaitu Sisi Selatan

Tempat Pembuatan Film Wiro Sableng, Saur Sepuh dan Tutur Tinular

Yang kalian anggap pintu masuk untuk objek wisata Gunung Sepikul di Desa Gunung Lor, itu dulunya adalah lokasi syuting untuk film Wiro Sableng dan Tutur Tinular, itu cerita Nenek dan Kakek. Ada yang bercerita pernah untuk lokasi Syuting Saur Sepuh juga.

Ladang Tebu

Di Bawah Gunung Sepikul dulunya itu adalah ladang tebu, kalau sekarang menjadi ladang pohon kayu sengon.

Nah itulah cerita pengalamanku bertahun-tahun di sana. Mungkin sebagian lupa aku ceritakan, tapi aku tambahkan lagi nanti jika ingat.

Referensi:

  • Sumber:  Sumber cerita adalah dari cerita kakek nenek yang tinggal di daerah tersebut, terutama di daerah desa brengalan. Cerita mungkin ada benar ada juga tidak, ada juga sekedar mitos atau sekedar bumbu untuk menambah cerita agar lebih menarik, jadi jangan dianggap terlalu serius.
  • Pesanku : Sayangilah tumbuhan dan lingkungan sekitar dengan menjaga kelestariannya, supaya kelak bisa dinikmati oleh anak cucu kita. Jangan terbiasa membuang sampah secara sembarangan. Selfie mau eksis boleh, tapi jaga juga lingkungannya.